Paging

Minggu, 25 Oktober 2015

Pengamalan Tergantung dengan Niatnya


Dalam berbuat sesuatu atau beramal, hendaknya kita selalu menata niat kita. Karena pengamalan itu dicatat berdasarkan niatnya.
أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Shohih Bukhori, Kitab Permulaan Wahyu, Bab Permulaan Wahyu.

Isi hadits di atas (tanpa penjabaran isnad) yaitu:
Rosululloh SAW pernah bersabda yang isinya: Sesungguhnya setiap amal (perbuatan) tergantung niatnya. Dan sesungguhnya bagi tiap orang tergantung apa yang dia niatkan. Maka barang siapa berniat hijroh (melakukan sesuatu) untuk dunia yang ingin dicapainya, atau untuk seorang wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrohnya (melakukan sesuatu itu) adalah pada apa yang dia niatkan.
Penjelasan hadits di atas:
Semua perbuatan hendaknya selalu diniati karena Allah. Ingin mendapatkan ridho Allah, ingin masuk surga selamat dari neraka. Walaupun urusan dunia seperti pekerjaan, hendaknya selalu diniati karena Allah. Dari pekerjaan yang kita kerjakan, sebagian darinya kita infaq-kan di jalan Allah. Karena infaq itu adalah perintah Allah, salah satunya seperti tercantum dalam Surat Albaqoroh ayat 254

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ ...

Wahai orang-orang yang beriman, infaq-kanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami (Allah) berikan padamu ... (al-ayah)

Atau mungkin juga, dari pekerjaan itu, kita niatkan untuk mendapatkan pengalaman yang bisa diimplementasikan untuk menolong agama Allah. Ingatlah dalam surat Muhammad ayat 7, bahwa bagi orang iman yang menolong agama Allah, akan ditolong juga oleh Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ ...
Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong pada (agama) Allah, maka Allah akan menolong kalian ... (al-ayah)
Apalagi dalam acara keagamaan, hendaknya tetap diniati karena Allah. Jangan diniati ingin mendapatkan perhatian dari lawan jenis, ingin mendapatkan uang, ingin mendapatkan ketenaran, dll. Malaikat hanya ditugaskan mencatat, namun yang tahu kondisi hati adalah hanya kita dan Allah.
Lalu, bagaimana jika kita sudah berusaha niat karena Allah, tetapi tidak bisa juga? Apakah keluar saja dari pengajian? Tentu saja tidak, karena keimanan itu datangnya bertahap. Seperti yang terjadi pada suku arab pedalaman yang diabadikan oleh Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 14:
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ...
Berkata orang arab pedalaman: "Kami telah beriman". Katakanlah Muhammad: "Kalian belum beriman. Namun katakanlah: "Kami telah Islam". Karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian (al-ayah)
Semoga Allah memberikan manfaat dan barokah.

Sumber : http://www.ldii.or.id/id/nasehat/1780-pengamalan-tergantung-dengan-niatnya.html

Kamis, 22 Oktober 2015

SEJARAH PUASA ASYURO

Hari Asyura atau 10 Muharram adalah hari yang agung, pada hari tersebut Allah menyelamatkan nabi Musa dan Harun AS salam dan Bani Israil dari pengejaran Fir’aun dan bala tentaranya di Laut Merah. Untuk mensyukuri nikmat yang agung tersebut, kaum Yahudi diperintahkan untuk melaksanakan puasa Asyura. Perhatikan dalil berikut :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ السَّخْتِيَانِيُّ عَنْ ابْنِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى
شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Telah bercerita kepada kami [‘Ali bin ‘Abdullah] telah bercerita kepada kami [Sufyan] telah bercerita kepada kami [Ayyub as-Sakhtiyaniy] dari [Ibnu Sa’id bin Jubair] dari [bapaknya] dari [Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tiba di Madinah, Beliau mendapatkan mereka (orang Yahudi) melaksanakan shaum hari ‘Asyura (10 Muharam) dan mereka berkata; “Ini adalah hari raya, yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun.

Lalu Nabi Musa ‘Alaihissalam mempuasainya sebagai wujud syukur kepada Allah”. Maka Beliau bersabda: “Akulah yang lebih utama (dekat) terhadap Musa dibanding mereka”. Maka Beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummat Beliau untuk mempuasainya. (HR. BUKHORI 1865)

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا هِشَامٌ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ الْفَرِيضَةَ وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ

Telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Al Mutsanna] Telah menceritakan kepada kami [Yahya] Telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dia berkata; Telah mengabarkan kepadaku [Bapakku] dari [Aisyah radliallahu ‘anha] dia berkata; Dahulu hari ‘Asyura adalah hari yang orang-orang Quraisy pergunakan pada masa Jahiliyah untuk berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan puasa itu.

Tatkala sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan pernah memerintahkan untuk berpuasa (pada hari itu), namun ketika perintah puasa ramadlan turun dan diwajibkan, maka puasa ‘Asyura ditinggalkan. Akhirnya barang siapa yang ingin berpuasa ‘Asyura hendaklah berpuasa, dan barangsiapa yang tidak ingin, maka tinggalkanlah.(HR. BUKHORI 4144)

Menurut hadist diatas puasa asyura dilaksanakan tanggal 10 muharam, tapi tahukah saudara ? ada hadist yang menjelaskan lebih lanjut seperti dibawah ini.
و حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنِي إِسْمَعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا غَطَفَانَ بْنَ طَرِيفٍ الْمُرِّيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُا حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan Telah menceritakan kepada kami [Al Hasan bin Ali Al Hulwani] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Maryam] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ayyub] telah menceritakan kepadaku [Isma’il bin Umayyah] bahwa ia mendengar [Abu Ghathafan bin Tharif Al Murri] berkata, saya mendengar [Abdullah bin Abbas] radliallahu ‘anhuma berkata saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura`dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa; Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharram).” Tahun depan itu pun tak kunjung tiba, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. (HR. MUSLIM 1916)
Menurut hadist diatas nabi hanya berpuasa pada Tanggal 10 saja, dan
seandainya nabi masih hidup hingga tahun depan, nabi akan memulai
puasa Asyura dari tanggal Sembilan.
Perbandingan hadist lainnya,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمِ عَاشُورَاءَ يَوْمُ الْعَاشِرِ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ يَوْمُ التَّاسِعِ و قَالَ بَعْضُهُمْ يَوْمُ الْعَاشِرِ وَرُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ وَبِهَذَا الْحَدِيثِ يَقُولُ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami [‘Abdul Waris] dari [Yunus] dari [Al Hasan] dari [Ibnu Abbas] dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa ‘Asyura’ pada hari kesepuluh. Abu ‘Isa berkata, hadits Ibnu Abbas merupakan hadits hasan shahih. Para ulama berselisih pendapat mengenai shaum ‘Asyuro’, sebagian mereka mengatakan, (‘asyuro’) tanggal sembilan, sebagian lagi mengatakan, hari kesepuluh. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya beliau berkata, berpuasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh dan selisihilah orang-orang Yahudi. Perkataan ini juga merupakan pendapatnya syafi’I, Ahmad dan Ishaq. (HR. tirmidzi 686)

Jadi dapat disimpulakan bahwa Nabi Telah berniat untuk puasa Asyuro yaitu tanggal 9 dan 10 Muharam, nabi SAW melakukan hal demikian untuk menyelisihi orang yahudi yang berpuasa ditanggal 10 muharam saja. Walaupun nabi tidak sempat melaksanakan puasa asyuro (tanggal 9 muharom), tapi nabi telah perintah kepada sahabat untuk melaksanakan puasa asyura (seperti yang dijelaskan hadist diatas), mengingat kefadholannya yang besar yaitu diampuni dosanya setehun sebelumnya seperti yang dijelaskan hadist dibawah ini :
KEUTAMAAN PUASA ASYURO

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ غَيْلَانَ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ 

Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] dan [Ahmad bin ‘Abdah Adl Dlabi] keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ghailan bin Jarir] dari [Abdullah bin Ma’bad] dari [Abu Qatadah] bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shaum hari ‘Asyura’ -saya berharap dari Allah- dapat menghapuskan dosa-dosa pada tahun sebelumnya.”(HR Tirmidzi 683)

Demikianlah keafdholan dari puasa Asyuro maka dari itu jangan dilewatkan. Insya Allah puasa akan jatuh pada tanggal 22-23 Oktober 2015. Selamat mencari keutamaan.(ibl)

Rabu, 21 Oktober 2015

Indahnya Surga Di depan Mata

Sepotong surga bisa dihadirkan di dunia melalui keluarga yang bahagia dan tenteram. Caranya, baik suami dan istri, serta anak-anak dapat memenuhi kewajibannya sebagaimana yang Allah SWT dan Rasulullah SAW perintahkan.
 
“Baiti jannati, rumahku adalah surgaku, merupakan cita-cita nabi Muhammad SAW dalam berumah tangga,” kata Ustadz Toyyibun dalam ceramahnya di mesjid Baitul Faqih. Dia juga memberikan tips mewujudkan kehidupan berumah tangga seperti kehidupan di surga.

Dunia terkecil di alam semesta ini ialah keluarga. Pada umumnya, keluarga terdiri dari orangtua dan anak. Masing-masing anggota keluarga ini memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi agar terwujud sebuah rumah tangga yang harmonis dan bahagia.

Dalam ceramahnya untuk warga LDII pada tingkat PC dan PAC se-kota Depok di masjid Baitul Faqih (22/3), Ustadz Toyyibun menjelaskan bahwa rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang semua anggota di dalamnya bisa saling menghormati dan saling menghargai, mengerti hak dan kewajiban masing-masing. Orangtua bisa menghargai anaknya dan anak bisa menghormati orangtuanya.

“Orangtua harus memperhatikan pendidikan anak-anak terutama pendidikan agamanya. Anak adalah tambang emas bagi orang tua apalagi ketika orang tua sudah meninggal, maka doa anak-anaklah yang bisa menjadi tambahan pahala bagi orang tua,” kata Ustadz Toyyibun. Salah mendidik anak memang merupakan kesalahan fatal yang dapat menyengsarakan orangtua di dunia bahkan di akhirat, karena baik buruknya peramutan orangtua pada anak akan dipertanggung jawabkan di sisi Allah SWT.
“Didiklah anak sesuai contoh di dalam Alquran, misalnya, membiasakan memanggil anak dengan sebutan ‘nak’ seperti yang dilakukan oleh Luqman dan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya. Bila hal itu sering dilakukan, maka lama kelamaan rasa menghormati pada orangtua akan tertanam di hati anak,” tambahnya.
Sesibuk apapun kegiatan masing-masing anggota keluarga, hak dan kewajiban masing-masing tetap harus terpenuhi. Seorang istri, misalnya, sesibuk apapun pekerjaannya istri tetap mempunyai kewajiban taat dan hormat pada suami. 

Contoh lagi, setua apapun usia anak, dia tetap punya kewajiban taat dan menghormat pada orangtua.
Selain itu, Ustadz Toyyibun juga menyarankan pada orangtua untuk menciptakan suasana damai di dalam rumah dengan membiasakan berkata yang baik-baik dan meramaikan rumah dengan lantunan Alquran yang dibacakan oleh masing-masing anggota keluarga. “Jangan memaki-maki anak karena apapun yang diucapkan orang tua pada anaknya adalah doa. Buat waktu berkualitas dengan bersama-sama membaca Alquran. Ayahnya baca, ibunya baca ya anak-anaknya juga ikutan baca, biar suasana tenteram tercipta di dalam rumah,” kata ustadz yang berasal dari Solo ini.

Di dalam setiap rumah tangga wajar terjadi ketidakcocokkan atau muncul beberapa masalah yang membuat sedih. Maka cara terbaik menghadapinya ialah bersabar dan bersikap tenang dalam menyelesaikan masalahnya. Hindari kata-kata kasar atau bentakan yang hanya akan memperparah keadaan. (LINES Depok/Foto: Hijapedia)

Sumber : http://www.ldii.or.id/id/nasehat/1651-keindahan-surga-di-depan-mata.html

Rabu, 14 Oktober 2015

Rasa Tanggung Jawab


Tanggung jawab seorang berkaitan erat dengan kewajiban yang dibebankan padanya. Semakin tinggi kedudukannya di masyarakat maka semakin tinggi pula tanggungjawabnya. Seorang pemimpin negara bertanggung jawab atas prilaku dirinya, keluarganya, saudara-saudaranya, masyarakatnya dan


“Wahai orang-orang mukmin peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At Tahrim 6)

Rasululah saw bersabda : “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya..”(Al Hadit)

Dapat kita katakan bahwa masing-masing dari diri yang hidup di muka bumi ini adalah individu yang memiliki rasa tanggung jawab. Contoh kecil ketika orang tua menyekolahkan anak-anak yang mereka miliki. Hal tersebut merupakan rasa tanggunga jawab yang orang tua kepada anakNya untuk mendapatkan pendidikan yang baik.

Atau contoh yang lebih besar lagi seseorang yang memimpin suatu negara. Ketika dia telah terpilih maka tanggung jawab yang ia miliki sangatlah banyak. Berbagai masalah negara merupakan tanggung jawab yang harus ia pikul.
Bagi seorang pemimpin dalam level apapun akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah atas semua perbuatannya beserta apa yang terjadi pada rakyat yang dipimpinnya. Hal Baik maupun buruknya keadaan rakyat.Sedangkan bagi eeroang mukmin yang cerdas tidak akan menerima kepemimpinan itu kecuali dengan ekstra hati-hati dan senantiasa akan mempeprbaiki dirinya, keluarganya dan semua yang menjadi tanggungannya.

Catatan yang ingin saya sampaikan apabila seseorang telah diberikan kepercayaan untuk memimpin ia sudah tau pasti akan tanggung jawab yang dimiliki. Baik itu tanggung jawab ketika di dunia maupun di akhirot.Sebagai rakyat yang dipimpin marilah kita sama-sama untuk saling mendukung agar pemimpin kita bisa selalu amanah. Sehingga rasa tanggung jawab yang dimiliki bisa menjada amal ibadah.

Jumat, 09 Oktober 2015

Pahala Sholat Jum'at

 imange by " voa-islam.com

"Barang siapa yang mandi di hari Jum’at ( mandi janabah), kemudian datang di waktu yang   pertama,   ia seperti berkurban seekor unta."

"Barang siapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi."

"Barang siapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing Gibas."

"Barang siapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam."


"Dan barang siapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Muttafaq 'alaih)


Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Apabila hari Jum'at tiba, pintu-pintu masjid terdapat para Malaikat yang mencatat urutan orang datang, yang pertama dicatat pertama. Jika imam duduk, merekapun menutup buku catatan, dan ikut mendengarkan khutbah." (HR. Bukhari dan Muslim)


Perintah yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW :


"Shalat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, kecuali empat golongan yaitu budak, wanita, anak kecil dan orang yang sedang menderita sakit". (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)



Maka dari itu dari untuk teman-teman muslim marilah tunaikan sholat jum'at ini  karena ini merupakan ibadah  wajib sebagai muslim. Seperti yang telah di jelaskan di atas

"Barang siapa yang mandi di hari Jum’at ( mandi janabah), kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta.


Jangan sampai kehilangan untuk mendapatkan Unta seperti yang telah allah janjiakan seperti hadist diatas.


Dalam Al - Qur'an di jelaskan :

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Al Jumuah : 10)




Kamis, 08 Oktober 2015

Amalan di Hari Senin dan Kamis

Berikut ini salah satu keutamaan pada hari Senin dan Kamis berdasarkan hadits-hadits shohih dari Rosul shallallahu alaihi wassalam.


Pada hari Senin dan Kamis pintu-pintu Surga dibuka. Dan pada saat itu dosa-dosa dan kesalahan orang-orang yg beriman diampuni oleh Allah, kecuali dua orang mukmin yg sedang bertikai dan bermusuhan, maka pengampunan dosa dan kesalahan mereka berdua ditunda sampai mereka berdamai.

Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:

» Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Artinya: “Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka setiap hamba yang tidak pernah berbuat syirik kepada Allah sedikit pun akan diampuni (oleh Allah pada hari tersebut), kecuali seseorang yang memiliki permusuhan.

Adapaun permusushan yang dimaksut adalah permusuhana antara dirinya dan saudaranya. Maka akan dikatakan (oleh Allah kepada para malaikat pencatat amalan), “Tundalah (pengampunan dosa dan kesalahan mereka berdua), sehingga mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim no. 2565).

» Note:
Untuk meraih pengampunan dosa dan kesalahan pada hari Senin dan Kamis disyaratkan 2 hal, yaitu:

1. Orang mukmin tsb adalah Ahli Tauhid, dan tidak pernah berbuat syirik atau menyekutukan Allah dgn sesuatu apapun. Atau ia sudah bertaubat dari segala macam bentuk kemusyrikan.

2. Tidak memiliki permusuhan dengan saudaranya sesama muslim karena urusan dunia. Adapun permusuhan karena urusan agama dan dlm rangka membela Allah dan Rasul-Nya (Al-Quran dan As-Sunnah), seperti permusuhan kita dgn para penganut agama Syi’ah Rofidhoh, Jaringan Islam Liberal, Ahli Bid’ah dan pengekor hawa nafsu yg merusak kemurnian Syari’at Islam, maka hal ini tidak menghalangi seorang mukmin utk meraih pengampunan dosa dari Allah, in syaa ALLAH.

Sudah selayaknya sebagai umat muslim jangan sampai kita menciptakan permusuhan, apalagi permusuhan yang dikarenkan oleh urusan dunia. Mari kita ciptakan rasa persaudaraan yang penuh damai dan cinta kekasih antar sesama muslim dan juga lainnya.

Sekali lagi Semoga kita semua selalu menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirot.

Sumber Artikel ini diadaptasi melalui abufawaz.wordpress.com/2014/12/18/meraih-keutamaan-hari-senin-dan-kamis/

Rabu, 07 Oktober 2015

Teladan Rasulullah

Siapa yang tidak kenal beliau?

Ya, Rasulullah
Rasulullah ini pada jamannya dikenali oleh semua orang, baik itu musuh ataupun kawan. Rasulullah dinobatkan sebagai orang paling berpangaruh di dunia versi buku ‘The 100’.
Rasulullah memiliki 4 putra dan 4 putri, sayangnya keempat putranya meninggal saat masih kecil, tetaplah beliau ayah terbaik. 
 
--"--  

Mengapa demikian ?? 
Jiwa penyayangnya kepada anak-anak tidak diragukan lagi. Rasulullah menyayangi semua anak kecil meskipun tak memiliki hubungan darah dengannya.
 
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan saatb beliau berjumpa dengan anak kecil maka ia akan menciuminya , mengajak balap lari, dan membuat lelucon jenaka merupakan keahliannya, dalam menghibur anak dan cucunya. Beliau juga merupakan sosok yang sabar dan tidak suka memarahi anak kecil.


Walaupun sabar dan tidak suka marah kepada anak kecil, bukan berarti menghilangkan sifat tegas beliau dalam mendidik anak. Rasulullah tidak segan menegur anaknya apabila menyalahi adab yang dibenarkan Islam.

Beliau pernah menegur Umar bin Abu Salma “Hai nak! Bacalah basmalah, menyuaplah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang ada didekatmu!” dari Aisyah HR. Bukhari dan Muslim.



Selasa, 06 Oktober 2015

SejatiNya Pertemanan

Memiliki teman banyak tentu menyenangkan. Ditambah lagi jika menyukai hal yang sama dan pemikirannya sama. Namun, apakah benar seperti demikian dalam berteman?

Ada suatu kasus nyata seseorang merasa terhina dengan candaan teman karibnya. Awalnya, mereka selalu bersama sebab memiliki hobi yang sama dan menjadi teman curhat satu sama lain. Namun, rupanya teman orang ini memiliki kebiasaan bercanda berlebihan sehingga membuat orang lain tidak nyaman. Nah, jika menemui kasus seperti ini apakah masih dikatakan ‘teman’?

http://www.kesekolah.com

Teman itu ada 3 macam:
1.    Teman kepentingan (shodiqul manfaat)
Yaitu orang yang berteman untuk mendapatkan keuntungan dunia. Dia dekat  karena ada suatu kepentingan. Ketika sudah tidak lagi berkepentingan, maka dia akan meninggalkan begitu saja.

2.    Teman bersenang-senang (shodiqul lidzah)
Yaitu orang yang berteman karena kesamaan hobi atau kesukaan. Bisa menghilangkan kejenuhan. Teman seperti ini biasanya sulit dilepaskan, tapi harus berhati-hati sebab teman seperti ini akan banyak menyita waktu dan bisa membuat lalai.

3.    Teman istimewa (shodiqul fadhilah)
Yaitu teman yang memiliki kelebihan dalam hal kebaikan atau agama, seperti ilmu agama, ahli ilmu, orang berakhlaq baik, orang yang ahli ibadah. Teman inilah yang seharusnya didekati dan dipertahankan, sebab dia akan menarik pada kebaikan dan mencegah pada kejelekan, dan ketika salah akan mengingatkan tanpa merusak kehormatan.

Rasulullah bersabda :
“Seseorang itu bergantung dengan agama teman bergaulnya, maka hendaklah salah seorang melihat siapa yang menjadi teman bergaulnya.” HR. Abu Dawud
Dalam Sahih Bukhori dijelaskan:
“Teman yang baik dan teman yang jelek, seperti tukang minyak wangi dan pandai besi. Tukang minyak wangi adakalanya dia mengolesimu atau kamu membeli darinya, atau kamu mencium bau wanginya. Sedangkan pandai besi, adakalanya membakar bajumu, atau kamu mencium bau tak sedap.”

Teman yang baik bukan hanya yang dapat membuat tertawa, tapi teman yang baik adalah dia yang bisa membuat menangis karena selalu mengingatkan pada Allah SWT. Memilih dalam berteman tidak ada salahnya selagi menuju kebaikan, sebab memilih kebaikan adalah jalan menuju surga.

Namun, bukan berarti mengabaikan teman yang salah. Sebagai teman yang baik, seorang teman berkewajiban untuk mengingatkan teman tersebut. Jika seseorang tidak ingin terpengaruh, maka lebih baik berpengaruh untuk orang lain. Tentunya hubungan pertemanan seperti ini akan diridhai oleh Allah dan orang lain pun ridha berteman dengan kita.  

Senin, 05 Oktober 2015

Memanfaatkan Waktu


Kasus 1  A : besok nonton yuk..
 B : Ayook..
 A : Emm.. tp bukannya mau ujian yaa
 B : Kan nonton sekali kali, belajarnya bisa dilain waktu lg
 A : Eh besok ikutan ngaji yuk
 B : Aduh maaf nih ujian semester udah deket
 A : Ngajinya sebentar aja  kok
 B : Emm.. tp masih banyak materi ujian yang belum paham

----"----- 

Kasus 2
 A : (via phone) sob maaf nih gerimis, main futsalnya pending minggu depan aja ya
 B : yaelah cuma gerimis kecil, ntar ku jemput pake mantel
 A : (via phone) jadi ikut ngaji kan hari ini ?
 B : Aduh kayaknya cuaca gak dukung nih, udah mulai gerimis
 A : Kujemput pake mantel ya ?
 B : Emm.. gak usah deh, lagian gak nyaman kalo ngaji nanti basah2an gitu bajunya

----"----- 
 
Kasus 3
 A : Pokoknya aku harus wisata keliling nusantara, korea dan jepang
 B : Jauh amat wisatanya
 A : Iya dong kalo mau lihat pemandangan indah ya harus usaha jauh jalannya
 B : Besok ikut ngaji yuk ?
 A : Dimana ?
 B : Jadwalnya sih di daerah
 A : Ah kejauhan

 ----"----- 

Kasus 4
 A : Hari minggu shoping yuk
 B : Ayuk pas banget nih
 A : Eh tapikan hari minggu jadwal kamu beberes rumah
 B : Ah beberesnya bisa hari lain kok --

 A : Minggu ngaji yuk
 B : Kalo minggu jadwal aku beberes rumah
 A : Beberesnya hari lain aja, ntar aku bantuin
 B : Hari lain aku sibuk

Lihat pintarnya setan meniupkan alasan ketika hendak kita dekat pada Alloh, dan ketika untuk urusan dunia alasan itu entah hilang kemana..

APAKAH KITA ORANG SIBUK ? coba perhatikan dng baik firman Alloh dlm hadits khudsi berikut ini;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا وَقَدْ رَفَعَهُ، قَالَ يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي، أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لَمْ
تَفْعَلْ، مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ *رواه ابن ماجه

Allah berfirman : wahai anak turun adam (manusia) melonggarkanlah/menyempatkanlah untuk ibadah kepadaku (Allah) maka aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan aku akan menutupi keperluanmu. Jika engkau tidak mengerjakannya,aku akan memenuhi hatimu dengan kesibukan (sok sibuk) dan aku tidak menutupi keperluanmu.

----"-----  
 
Apakah kita kurang memahami dalili di atas? atau bahkan mengkufurinya?!

Ada seorang ulama berguru kepada seorang ulama, Selang beberp lama saat dia ingin melanjutkan
belajar ke guru lain, maka gurunya berpesan : "Jangan tinggalkan membaca Alquran, semakin banyak membaca Alquran urusanmu semakin mudah.
Murid tersebut pun melakukan, dia membaca alquran 3 juz perhari, dan urusannya semakin mudah.


Kesimpulan : Alloh yang mengurus semua urusannya. Dan sebaliknya waktu yg selalu sibuk  hanya untuk urusan dunia, bisa jadi itu adalah tandanya ada yg salah didalam hidup kita.

Barangsiapa yang bangun pagi dan hanya dunia yg dipikirkannya, sehinggaseolah olah dia tdk melihat HAK ALLOH dlm dirinya, maka Alloh akan menanamkan 4 macam penyakit :

        1. Kebingungan yg tiada putus-putusnya
        2. Kesibukan yg tidak pernah jelas akhirnya
        3. Kebutuhan yg tdk pernah merasa terpenuhi
        4. Khayalan yg tdk berujung wujudnya (H.R Muslim)



"Keberkahan waktu yaitu bisa melakukan banyak amal kebaikan dalam waktu sedikit"
      Semoga kita semua bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. (Repost/Line)

Sabtu, 03 Oktober 2015

Peranan Orang Tua terhadap Anak

Anak remaja masa kini lebih sering mendapat kesenangan dari media hiburan seperti, acara televisi yang kurang mendidik, radio, majalah, bahkan video porno yang dapat merusak otak dan kecerdasan emosionalnya. Akibatnya, mereka tidak mampu mengelola emosinya, tidak cerdas mengendalikan impuls-dorongan sesaat dalam dirinya, sehingga terganggu dalam berelasi dengan orang lain.

Bukan hanya itu, anak yang kurang berinteraksi dengan orangtuanya, cenderung lebih membangkang, lebih cemas dan penakut, lebih kesepian dan sedih. Dalam belajar pun, jika anak tidak diajarkan rasa tanggung jawab, percaya diri dan kemandirian sejak dini, mereka sering melamun, tidak peduli dengan tugas dan kewajiban sebagai seorang murid, selalu minta bantuan pada orang lain dalam mengerjakan PR, yang akibatnya dapat menghambat perkembangan ketrampilan psikomotorik, bahasa, dan sosial anak.

Ada baik nya sbagai orang tua kita melakukan intropeksi diri sebagai berikut  :
Periksa diri sebagai orangtua
Anak-anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan hidup mereka. Bila lingkungan si anak negatif, maka kita perlu mengubah lingkungan hidup mereka menjadi positif, yaitu dengan menjadi orangtua yang selalu ada untuk anak, tidak acuh tak acuh, tidak mengontrol kegiatan yang dilakukan anak, bahkan kasar terhadap anak.
Berikan ungkapan kasih sayang orangtua kepada anak dari segi kekokohan dan kejiawaan anak bukan sekedar bentuk materi. Ciptakan hubungan relasi yang baik dengan anak serta suasana yang penuh perhatian, penghargaan, positif dan aman. Anak yang mendapat perlakuan dari orangtua seperti itu, mereka akan bisa menghargai, merasa aman, percaya diri, terbuka dengan orangtua. Ajarkan nilai-nilai agama sejak dini, agar kelak anak-anak selalu ingat dengan Tuhannya dan mempunyai iman yang kuat.

Perbaiki pola pengasuhan
Lakukan perumusan ulang tujuan pengasuhan bersama pasangan. Orangtua mengenali kelebihan dan kekurangan dirinya masing-masing. Keduanya harus sepakat mengenai porsi yang sama dalam pengasuhan. Tetap tegas pada nilai-nilai agama walaupun anak memiliki pendapat dan nilai yang berbeda. Yang terpenting adalah, jadilah panutan, karena memberikan pengaruh besar pada sikap, perilaku dan moralitas anak.

Pentingnya hubungan orangtua dalam pengasuhan
Perkawinan haruslah memiliki tiga aspek, yaitu Keintiman (saling menghormati dan menghargai), gairah, dan komitmen yang berjalan selaras. Kegagalan salah satu aspek akan membuat perkawinan pincang dan pengaruhnya sangat besar dalam pengasuhan anak. Sistem keluarga yang kuat dan stabil akan memberikan pengaruh positif pada kecakapan hidup anak. Pola pengasuhan orangtua harus dipelajari terus menerus, agar orangtua sensitif dan responsif pada tahapan perkembangan anak dan keluarga. (/www.ldii.or.id/id/news/sosial/1769-mengendalikan-masa-remaja-tanpa-mengekang.html)

Jumat, 02 Oktober 2015

Kewajiban Orang Tua



"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan ahli kalian dari api neraka."

Bagi orang tua,anak merupakan nikmat dan pastinya anugerah yang besar dari allah. Seorang anak juga berpotensi mengalirkan pahala dan hiasan hidup di dunia. Anak merupakan buah cinta dab harapan bagi para orang tua. Mereka ibarat ranting yang rindang, bunga yang indah, penyejuk hati, permata hati. Kita mendidik anak sewaktu mereka masih kecil, yang tujuannya saat mereka dewasa nanti dapat menjadi orang yang berguna selain bagi orang tua juga bagi nusa dan bangsa. 

Seperti sabda nabi SAW :
Ketika seseorang masuk ke surge dia menanyakan tentang keduaorangtuannya, istrinya dan anaknya. Maka dikatakan, “Sesungguhnya mereka tidak sampai pada derajatmu.” Dia berkata, “Ya Tuhanku, sungguh aku telah beramal untuk diriku dan keluargaku.” Maka perintahkan (kepada malaikat) untuk menyusulkan mereka kepadanya.

Hikmah yang dapat kita ambil dari salah satu riwayat nabi diatas, yaitu orang tua (keluarga) merupakan “Sekolah” pertama bagi tumbuh  kembang anak selanjutnya. Pembinaan terhadap anak tersebut meliputi beberapa pembinaan, diantaranya pembinaan fisik, mental, tata karma dan pendidikan.

Bersambung...

Kerugian Meninggalkan Sholat Jum'at

Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang lalai akan kewajiban shalat Jum’at. Sampai seringkali meninggalkannya. Padahal shalat ini adalah kewajiban yang tidak perlu lagi disanksikan. Dalil pendukungnya pun dari Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Maka sudah barang tentu yang meninggalkannya akan menuai petaka yang menimpa jasad dan lebih parah lagi akan merusak hatinya.

Kewajiban shalat Jum’at ditunjukkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al Jum’ah: 9). Kata kebanyakan pakar tafsir, yang dimaksud ‘dzikrullah’ atau mengingat Allah di sini adalah shalat Jum’at. Sa’id bin Al Musayyib mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mendengar nasehat (khutbah) pada hari Jum’at. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 8: 265)

Dikuatkan lagi dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

“(Shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih)

 Ulama terkemuka di Saudi Arabia yang berdomisili di kota Riyadh dan sangat mumpuni dalam hal aqidah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhohullah ditanya, “Apa akibat yang diperoleh orang yang tidak menghadiri shalat Jumat? Apa hadits yang menerangkan hal tersebut?

Jawab Syaikh hafizhohullah,

Shalat Jum’at adalah shalat yang wajib bagi orang yang tidak memiliki uzur. Barangsiapa meninggalkannya, ia terjerumus dalam dosa besar. Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena meremehkannya, hatinya akan tertutupi. Dan ia termasuk orang-orang yang lalai. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika beliau memegang tongkat di mimbarnya,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim no. 865)

Sumber : http://rumaysho.com/2110-hati-tertutup-karena-meninggalkan-shalat-jumat.html

Kamis, 01 Oktober 2015

Keterampilan berfikir



Keterampilan berfikir adalah proses mental yang diterapkan ketika kita berusaha untuk memahami suatu pengalaman tertentu. Keterampilan berfikir memungkinkan kita untuk membuat hubungan atau mengintegrasikan setiap pengalaman baru ke dalam sebuah proses untuk melakukan hal-hal seperti : memecahkan masalah, membuat keputusan, mengajukan pertanyaan, membangun rencana, mengevaluasi ide-ide, mengatur informasi atau menciptakan objek. Keterampilan berfikir akan membantu kita untuk belajar lebih banyak dari informasi dan pegalaman yang kita alami dan membuat kita kebih baik dalam menggunakan kecerdasan.
Manfaat melatih keterampilan berfikir diantaranya :

  • Mengelola informasi menjadi pengetahuan, sehingga membangun sikap-sikap, nilai-nilai, keterampilan untuk memecahkan masalah.
  •  Merenungkandari pengalaman yang telah dan sedang terjadi, merenungkan sebab dan akibatnya, dan memikirkan pemecahan masalahnya.
  • Mengembangkan kebiasan bertanya sabagai wujud dari kritisnya pemikiran kita tentang suatu pengalaman dan fenomena yang sedang terjadi di masyarakat, baik pada masa lalu, masa kini maupun masa yang akan datang.